Sabtu, 20 September 2014

The Monsters Hero | Part 1 (Advhar dan mimpi)

Gajah. Kastil. Kapal. Lumba-lumba. Lewat sebuah pesawat menghapus bayang gumpalan kapas putih di langit. Menarik napas panjang, kembali kedalam lamunan. Kini terlihat para makhluk kecil berukuran sekepal tangan menari diudara seakan berteriak mengeluarkan mantra agar semua yang ada di ruangan ini keluar dan bersenang-senang dengan mereka. Tapi sayang, mantra mereka tak terdengar terhalang kaca yang setebal 2cm. Gadis itu tersenyum dengan menahan dagunya dengan tangan kanan menatap jendela di sebelah kirinya. Dia tahu percis burung-burung yang selalu mampir di jendela sebelah tempatnya ia duduk itu khususnya merpati berwarna coklat dengan garis putih di kanan bola mata hingga sayapnya. Advhar. Dia memberikan nama Advhar sama dengan namanya kepada burung cantik itu. Sesekali ia menyisakan roti sarapannya untuk di berikan ke burung itu.
“Advhar April North. What you see?” Tanya Miss Laurance
“Emmh, nothing miss. I’m just saw that window.” Jawabnya lirih
“Oke. Can you read page 182?”
“Yes Miss.” Advhar gadis berumur 16 tahun itu mulai membaca yang disuruh oleh guru bahasa Inggrisnya. Ia membaca sebuah cerita tentang kilasan film Godzila, setelah itu dia mulai berpikir bagaimana mungkin makhluk seperti itu benar ada di bumi dan di zaman modern seperti ini? Bahkan dia juga tidak pernah dengar asal mula monster itu bagaimana, sepertinya ini akan menjadi tugas barunya untuk mencari tahu tentang Godzila.
Sepulang sekolah Advhar langsung menuju perpustakaan, mencari tahu tentang Godzila. Setelah dapat ia pergi ke taman dimana ia biasa di jemput oleh ibu atau Frans yaitu kekasih ibunya, secara tidak langsung jadi calon ayah tirinya. Sesungguhnya Advhar tidak keberatan bila ibu nya akan menikah lagi asal semuanya tidak ada yg berubah dan dia masih bisa bebas melakukan hal anehnya, dan menurutnya Frans adalah orang yang baik, bijak, tapi dia masih belum bisa cerita banyak apalagi kebiasaan anehnya meskipun Frans ingin sekali ikut gabung bersamanya.

Hari ini cukup panas untuk ukuran jam 3 sore. Dua es kelapa muda rasanya tak cukup untuk menghilangkan haus dan bosan. Jam tangan kuning spongebob miliknya sudah berlalu 35 menit dan belum ada yang datang juga. Kemudian handphone nya bergetar, terdapat pesan bahwa ibu nya tidak bisa menjemput karna meeting mendadak dan Frans pun tidak bisa sedang keluar kota. Di balasnya singkat bahwa dia akan ke rumah nenek. Bergegas menyimpan handphone di saku rok sekolahnya kotak-kotak merah dan meraih tas yang di sangkutkan di ayunan. Dengan wajah cemberut dia memberhentikan sebuah bus, dia kali ini tak ingin naik taksi, rasanya butuh keramaian untuk menghilangkan kecewa dan bosan.

Tok tok tok tok tok.... “Nenek. Aku datang. Cucumu yang paling cantik dan aneh ini rindu akan semua dongenmu.” Seperti biasa teriakan Advhar kencang di depan pintu berwarna putih dengan hiasan dua lonceng emas. Di bukakan pintu bukan oleh neneknya langsung tetapi oleh Bibi Rose, yaitu adik dari ibunya.
“Hai Advhar, rindu sekali Bibi kepadamu.” Sambil memeluk Advhar
“Hai Bi, aku juga rindu. Nenek mana?”
“Ada di dapur, kebetulan sekali dia sedang membuat kue cokelat kesukaanmu. Ayo masuk”
“Benarkah? Oh Tuhan, aku makin cinta dengan wanita tua nan cantik itu.”
Hingga malam tiba Advhar masih di rumah nenek, sepertinya ia ingin menginap meskipun besok hari jumat dan masih ada sekolah satu hari lagi. Matanya yang bulat hitam pekat tak sanggup lagi mempertahankan kebulatannya yang semakin sipit dan terlelap. Masih dengan seragam lengkap dan kaos kaki yang sedikit kusam tidak dipedulikannya. Kebiasaan buruk Advhar sejak kecil yang sulit menahan kantuk dan susah di bangunkan bila sudah tidur.

Gadis itu terbangun di jam 3 pagi dan berada di kamar pribadinya, mengingat bahwa sebelumnya ia sedang ada di sofa rumah neneknya tiba-tiba ada dikamarnya. Advhar pun keluar kamar dan ia terhentak kaget menutup mulutnya dengan tidak percaya. Rumahnya kosong, semua barang menghilang.  Bergegas mencari ibu dan pembantunya ke semua sudut ruangan, tidak ada. Advhar mulai panik, segera keluar rumah dan...
“Oh My God! Oh My God! Mama jangan tinggalkan aku. Mooooooom!!!!”  

Advhar kemudian bangun dan merasakan tangan kanannya sangat sakit karena terjatuh dari sofa. Kepalanya terasa pusing mengingat mimpi yang sangat mengerikan itu sambil berusaha untuk duduk. Dilihat jam di dinding menunjukan jam 5 pagi. Lekas ia meminta ijin pulang kepada nenek dan diantarkan pulang oleh supir yang terlihat masih amat sangat ngantuk. Kemudian dia minta maaf kepada supir terpaksa harus mengantarkannya pulang sepagi ini. Setiba di rumah ia langsung masuk ke kamar tanpa mendengarkan pertanyaan dari ibunya. Segera ia membuka laptop, mencari tahu tentang Gorila hingga akhirnya ia harus siap-siap untuk berangkat sekolah meskipun matanya kembali mengantuk dan kembali tidur pada jam istirahat.

“Advhar sayang, kau tunggu di rumah. Aku harus menolong banyak orang, kita akan bertemu di stadium bola Korwell, disana semua orang akan diamankan. Aku yakin kamu pasti bisa sayang.” Ucap ibu Advhar
“Mama aku takut, aku ingin ikut.” Advhar menangis
“Kau adalah pahlawan, anakku. Kau bersama teman-teman monstermu akan menyelamatkan dunia dan aku. Mereka sebentar lagi akan tiba”
“Maksud mama apa? Aku tak paham. Mama jangan tinggalkan aku. Moooommm!!”

Advhar terbangun berkeringat dengan napas tersenggal-senggal, semua orang menatapnya. Ia tidak percaya apa yang terjadi di mimpinya, semua terasa nyata. Kemudian ia meminta maaf kepada teman-temannya. Semua temannya tahu bahwa Advhar adalah perempuan aneh yang terkadang juga terlihat seperti komedian membuat mereka tertawa jadi tidak terlalu heran melihat tingkahnya kali ini yang bangun sambil teriak ditengah hari. Seorangang laki-laki yang duduk di belakangnya memberikannya minum, namun ia menolak dan berlari ke toilet. Menatap dirinya dalam cermin sesekali membasahi wajahnya dengan sangat basah hingga mengenai rambut hitamnya yang panjang 15cm dibawah bahu. Terhentak kaget tiba-tiba terlihat seorang wanita rambut panjang blonde menggunakan kemeja putih dan rok hitam setinggi lutut, meminta agar menemuinya di taman biasa ia menungu jemputan tepat jam 2 siang. Ketika menoleh kebelakang wanita itu menghilang.
Ini seperti hari terburuknya setelah ia kehilangan ayahnya. Sambil berjalan menuju taman Advhar masih belum bisa melupakan mimpinya. Sungguh aneh. Terdengar langkah kaki berlari kecil menghampirinya.
“Hai Dinosaurus, menunggu jemputan lagi di taman?”
“Sepertinya begitu. Hey, kau tahu darimana kalau aku suka menunggu jemputan di taman? Padahal jarak dari sekolah lumayan jauh bila jalan kaki seperti ini.”
“Rumahku dekat dari taman dan aku jalan kaki setiap ke sekolah dan pulangnya aku selalu ada di belakangmu.”
“Benarkah? Kenapa baru kali ini kau menyapaku? Padahal kita bisa berjalan bareng seperti ini.”
“Entahlah. Sepertinya lebih menyenangkan melihat caramu berjalan dari belakang.”
“Ada apa dengan cara jalanku? Sepertinya biasa saja.”
“Ya memang biasa saja, tapi tanpa kau sadari bahwa kau selalu melakukan hal aneh tiap gerakan dan terkadang aku tertawa akan tingkahmu. Tapi aku senang melihatmu seperti itu.” Ucap Clue sambil melemparkan senyum
“Ya Tuhan. Aku pikir aku sudah berjalan dengan sangat amat wajar ternyata belum.” Mereka pun tertawa dan akhirnya terpisah di taman.

Melihat sekeliling taman sepertinya wanita itu belum tiba, ia membeli es kelapa muda dua gelas seperti biasa karna ia tahu akan menunggu lama ditambah hari ini sangat panas. 15 menit ia menunggu menunggu sambil tiduran disebuah kursi panjang di bawah pohon besar, mengambil ipod dari tasnya dan kembali tiduran. Setelah 30 menit wanita blonde itu tiba menggunakan kacamata hitam dengan sebuah tas hitam di tangannya.
“Hai Advhar April Mop”. Sapa wanita blonde itu
“Maaf, namaku North bukan Mop dan ini bukan bulan april untuk mengerjaiku untuk april mop”. Jawab Advhar kesal
Wanita itu tersenyum sangat manis ketika Advhar menjawab ketus dengan muka kesal.
“Maafkan aku gadis cantik, aku hanya bercanda. Singkat saja, namaku Sarah dan aku agen rahasia GROWT. Sebuah perusahaan rahasia yang nanti kau pun akan tahu. Aku hanya memberitahu bahwa kau akan menjadi seorang mentor sekaligus pelatih”.
“Mentor dan pelatih? Untuk apa? Kepada siapa?”.
“Kepada 4 monster tak terduga”.
“Apa? Monster? Kau gila!”.
“Aku tidak gila, justru nanti kau akan menyukainya tetapi kau akan melewati banyak tantangan”.
“Bagaimana aku bisa menyukainya kalau itu adalah monster? MONSTER! Beritahu aku monster apa itu”.
“Aku beri tahu klu-nya. Pertama yaitu dinosaurus favoritmu, kedua yang ada di mimpimu tadi pagi, ketiga dan keempat kau akan tahu nanti”.
“Untuk apa semua ini?”.

“Untuk perdamaian dunia”. Kemudian ia memberikan 2 kotak kecil seperti kotak kecil berwarna abu-abu dan merah, meminta agar disimpan baik-baik dan jangan membukanya hingga ia mendapatkan kotak keempat. Tanpa ucap perpisahan wanita itu pergi meninggalkan Advhar sendiri di taman. Gadis itu pun juga pergi. 

#to be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar