Gajah. Kastil. Kapal.
Lumba-lumba. Lewat sebuah pesawat menghapus bayang gumpalan kapas putih di
langit. Menarik napas panjang, kembali kedalam lamunan. Kini terlihat para
makhluk kecil berukuran sekepal tangan menari diudara seakan berteriak
mengeluarkan mantra agar semua yang ada di ruangan ini keluar dan
bersenang-senang dengan mereka. Tapi sayang, mantra mereka tak terdengar
terhalang kaca yang setebal 2cm. Gadis itu tersenyum dengan menahan dagunya
dengan tangan kanan menatap jendela di sebelah kirinya. Dia tahu percis
burung-burung yang selalu mampir di jendela sebelah tempatnya ia duduk itu
khususnya merpati berwarna coklat dengan garis putih di kanan bola mata hingga sayapnya.
Advhar. Dia memberikan nama Advhar sama dengan namanya kepada burung cantik
itu. Sesekali ia menyisakan roti sarapannya untuk di berikan ke burung itu.
“Advhar April
North. What you see?” Tanya Miss Laurance
“Emmh, nothing
miss. I’m just saw that window.” Jawabnya lirih
“Oke. Can you read
page 182?”
“Yes Miss.” Advhar
gadis berumur 16 tahun itu mulai membaca yang disuruh oleh guru bahasa
Inggrisnya. Ia membaca sebuah cerita tentang kilasan film Godzila, setelah itu
dia mulai berpikir bagaimana mungkin makhluk seperti itu benar ada di bumi dan
di zaman modern seperti ini? Bahkan dia juga tidak pernah dengar asal mula
monster itu bagaimana, sepertinya ini akan menjadi tugas barunya untuk mencari
tahu tentang Godzila.
Sepulang sekolah
Advhar langsung menuju perpustakaan, mencari tahu tentang Godzila. Setelah dapat
ia pergi ke taman dimana ia biasa di jemput oleh ibu atau Frans yaitu kekasih
ibunya, secara tidak langsung jadi calon ayah tirinya. Sesungguhnya Advhar
tidak keberatan bila ibu nya akan menikah lagi asal semuanya tidak ada yg
berubah dan dia masih bisa bebas melakukan hal anehnya, dan menurutnya Frans
adalah orang yang baik, bijak, tapi dia masih belum bisa cerita banyak apalagi
kebiasaan anehnya meskipun Frans ingin sekali ikut gabung bersamanya.
Hari ini cukup
panas untuk ukuran jam 3 sore. Dua es kelapa muda rasanya tak cukup untuk
menghilangkan haus dan bosan. Jam tangan kuning spongebob miliknya sudah
berlalu 35 menit dan belum ada yang datang juga. Kemudian handphone nya
bergetar, terdapat pesan bahwa ibu nya tidak bisa menjemput karna meeting
mendadak dan Frans pun tidak bisa sedang keluar kota. Di balasnya singkat bahwa
dia akan ke rumah nenek. Bergegas menyimpan handphone di saku rok sekolahnya
kotak-kotak merah dan meraih tas yang di sangkutkan di ayunan. Dengan wajah
cemberut dia memberhentikan sebuah bus, dia kali ini tak ingin naik taksi,
rasanya butuh keramaian untuk menghilangkan kecewa dan bosan.
Tok tok tok tok
tok.... “Nenek. Aku datang. Cucumu yang paling cantik dan aneh ini rindu akan
semua dongenmu.” Seperti biasa teriakan Advhar kencang di depan pintu berwarna
putih dengan hiasan dua lonceng emas. Di bukakan pintu bukan oleh neneknya
langsung tetapi oleh Bibi Rose, yaitu adik dari ibunya.
“Hai Advhar, rindu
sekali Bibi kepadamu.” Sambil memeluk Advhar
“Hai Bi, aku juga
rindu. Nenek mana?”
“Ada di dapur,
kebetulan sekali dia sedang membuat kue cokelat kesukaanmu. Ayo masuk”
“Benarkah? Oh
Tuhan, aku makin cinta dengan wanita tua nan cantik itu.”
Hingga malam tiba
Advhar masih di rumah nenek, sepertinya ia ingin menginap meskipun besok hari
jumat dan masih ada sekolah satu hari lagi. Matanya yang bulat hitam pekat tak
sanggup lagi mempertahankan kebulatannya yang semakin sipit dan terlelap. Masih
dengan seragam lengkap dan kaos kaki yang sedikit kusam tidak dipedulikannya. Kebiasaan
buruk Advhar sejak kecil yang sulit menahan kantuk dan susah di bangunkan bila
sudah tidur.
Gadis itu terbangun
di jam 3 pagi dan berada di kamar pribadinya, mengingat bahwa sebelumnya ia
sedang ada di sofa rumah neneknya tiba-tiba ada dikamarnya. Advhar pun keluar
kamar dan ia terhentak kaget menutup mulutnya dengan tidak percaya. Rumahnya kosong,
semua barang menghilang. Bergegas mencari
ibu dan pembantunya ke semua sudut ruangan, tidak ada. Advhar mulai panik,
segera keluar rumah dan...
“Oh My God! Oh My
God! Mama jangan tinggalkan aku. Mooooooom!!!!”
Advhar kemudian bangun
dan merasakan tangan kanannya sangat sakit karena terjatuh dari sofa. Kepalanya
terasa pusing mengingat mimpi yang sangat mengerikan itu sambil berusaha untuk
duduk. Dilihat jam di dinding menunjukan jam 5 pagi. Lekas ia meminta ijin
pulang kepada nenek dan diantarkan pulang oleh supir yang terlihat masih amat
sangat ngantuk. Kemudian dia minta maaf kepada supir terpaksa harus
mengantarkannya pulang sepagi ini. Setiba di rumah ia langsung masuk ke kamar
tanpa mendengarkan pertanyaan dari ibunya. Segera ia membuka laptop, mencari
tahu tentang Gorila hingga akhirnya ia harus siap-siap untuk berangkat sekolah
meskipun matanya kembali mengantuk dan kembali tidur pada jam istirahat.
“Advhar sayang,
kau tunggu di rumah. Aku harus menolong banyak orang, kita akan bertemu di
stadium bola Korwell, disana semua orang akan diamankan. Aku yakin kamu pasti
bisa sayang.” Ucap ibu Advhar
“Mama aku takut,
aku ingin ikut.” Advhar menangis
“Kau adalah
pahlawan, anakku. Kau bersama teman-teman monstermu akan menyelamatkan dunia
dan aku. Mereka sebentar lagi akan tiba”
“Maksud mama apa? Aku
tak paham. Mama jangan tinggalkan aku. Moooommm!!”
Advhar terbangun berkeringat
dengan napas tersenggal-senggal, semua orang menatapnya. Ia tidak percaya apa
yang terjadi di mimpinya, semua terasa nyata. Kemudian ia meminta maaf kepada
teman-temannya. Semua temannya tahu bahwa Advhar adalah perempuan aneh yang
terkadang juga terlihat seperti komedian membuat mereka tertawa jadi tidak
terlalu heran melihat tingkahnya kali ini yang bangun sambil teriak ditengah
hari. Seorangang laki-laki yang duduk di belakangnya memberikannya minum, namun
ia menolak dan berlari ke toilet. Menatap dirinya dalam cermin sesekali
membasahi wajahnya dengan sangat basah hingga mengenai rambut hitamnya yang
panjang 15cm dibawah bahu. Terhentak kaget tiba-tiba terlihat seorang wanita
rambut panjang blonde menggunakan kemeja putih dan rok hitam setinggi lutut,
meminta agar menemuinya di taman biasa ia menungu jemputan tepat jam 2 siang. Ketika
menoleh kebelakang wanita itu menghilang.
Ini seperti hari
terburuknya setelah ia kehilangan ayahnya. Sambil berjalan menuju taman Advhar
masih belum bisa melupakan mimpinya. Sungguh aneh. Terdengar langkah kaki
berlari kecil menghampirinya.
“Hai Dinosaurus,
menunggu jemputan lagi di taman?”
“Sepertinya
begitu. Hey, kau tahu darimana kalau aku suka menunggu jemputan di taman? Padahal
jarak dari sekolah lumayan jauh bila jalan kaki seperti ini.”
“Rumahku dekat
dari taman dan aku jalan kaki setiap ke sekolah dan pulangnya aku selalu ada di
belakangmu.”
“Benarkah? Kenapa
baru kali ini kau menyapaku? Padahal kita bisa berjalan bareng seperti ini.”
“Entahlah. Sepertinya
lebih menyenangkan melihat caramu berjalan dari belakang.”
“Ada apa dengan
cara jalanku? Sepertinya biasa saja.”
“Ya memang biasa
saja, tapi tanpa kau sadari bahwa kau selalu melakukan hal aneh tiap gerakan
dan terkadang aku tertawa akan tingkahmu. Tapi aku senang melihatmu seperti
itu.” Ucap Clue sambil melemparkan senyum
“Ya Tuhan. Aku pikir
aku sudah berjalan dengan sangat amat wajar ternyata belum.” Mereka pun tertawa
dan akhirnya terpisah di taman.
Melihat sekeliling
taman sepertinya wanita itu belum tiba, ia membeli es kelapa muda dua gelas
seperti biasa karna ia tahu akan menunggu lama ditambah hari ini sangat panas.
15 menit ia menunggu menunggu sambil tiduran disebuah kursi panjang di bawah
pohon besar, mengambil ipod dari tasnya dan kembali tiduran. Setelah 30 menit
wanita blonde itu tiba menggunakan kacamata hitam dengan sebuah tas hitam di
tangannya.
“Hai Advhar April
Mop”. Sapa wanita blonde itu
“Maaf, namaku
North bukan Mop dan ini bukan bulan april untuk mengerjaiku untuk april mop”. Jawab
Advhar kesal
Wanita itu
tersenyum sangat manis ketika Advhar menjawab ketus dengan muka kesal.
“Maafkan aku gadis
cantik, aku hanya bercanda. Singkat saja, namaku Sarah dan aku agen rahasia GROWT.
Sebuah perusahaan rahasia yang nanti kau pun akan tahu. Aku hanya memberitahu
bahwa kau akan menjadi seorang mentor sekaligus pelatih”.
“Mentor dan
pelatih? Untuk apa? Kepada siapa?”.
“Kepada 4 monster
tak terduga”.
“Apa? Monster? Kau
gila!”.
“Aku tidak gila,
justru nanti kau akan menyukainya tetapi kau akan melewati banyak tantangan”.
“Bagaimana aku
bisa menyukainya kalau itu adalah monster? MONSTER! Beritahu aku monster apa
itu”.
“Aku beri tahu
klu-nya. Pertama yaitu dinosaurus favoritmu, kedua yang ada di mimpimu tadi
pagi, ketiga dan keempat kau akan tahu nanti”.
“Untuk apa semua
ini?”.
“Untuk perdamaian
dunia”. Kemudian ia memberikan 2 kotak kecil seperti kotak kecil berwarna
abu-abu dan merah, meminta agar disimpan baik-baik dan jangan membukanya hingga
ia mendapatkan kotak keempat. Tanpa ucap perpisahan wanita itu pergi
meninggalkan Advhar sendiri di taman. Gadis itu pun juga pergi.
#to be continued....
#to be continued....